Jumat, 29 Mei 2015

Peran Sosial Budaya Terhadap Kurikulum



Peran Sosial Budaya Terhadap Kurikulum
Oleh : Rizki Ramadhan

Dalam beberapa tahun terakhir pemerintah Republik Indonesia, khususnya Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan telah membuat kurikulum baru. Kurikulum tersebut adalah kurikulum 2013. Kurikulum 2013 adalah sebuah inovasi yang dikeluarkan pemerintah untuk menggantikan kurikulum yang lama yaitu Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Namun, perlu dipahami bahwa pergantian kurikulum tersebut mempunyai maksud dan tujuan. Terlebih lagi kurikulum 2013 ini dibuat agar lebih baik dari kurikulum sebelumnya. Otomatis maksud dan tujuannya akan lebih baik lagi dari pada tujuan kurikulum sebelumnya.
Jika pada hakikatnya tujuanlah yang kita akan capai. Seni dan budayalah sebagai isi dari kurikulum yang jikalau dilaksanakan dengan baik maka akan mencapai kepada tujuan yang sesungguhnya. Karena pendidikan berakar pada budaya bangsa untuk membangun kehidupan bangsa di masa kini dan mendatang. Haruslah peserta didik diajarkan bahkan dididik dengan menggunakan budaya bangsa dan bukan budaya luar. Jika kita ajarkan peserta didik dengan budaya luar, maka akan terhapuslah perlahan-lahan rasa nasionalismenya. Sehingga menjadikan peserta didik untuk melakukan hal yang di luar dari batas kewajaran dalam budaya lokal.
Padahal makna yang terkandung dari pendidikan adalah akar budaya bangsa adalah bagaimana kurikulum itu merancang pendidikan untuk mempersiapkan kehidupan generasi muda bangsa. Maka dari itu rancangan pendidikan itu haruslah sesuai dengan sosial budaya yang ada di lingkungan peserta didik. Dengan demikian, untuk mempersiapkan generasi muda bangsa kurikulum haruslah sejalan dengan nilai-nilai budaya. Terlebih lagi peserta didik juga harus menguasai kompetensi kebudayaan lokal. Sehingga ketika mereka hidup dimasyarakat mereka sudah mempunyai bekal kompetensi tersebut.
Peserta didik juga sebagai pewaris budaya bangsa yang kreatif. Dalam artian bukan saja peserta didik hanya mengetahui isi budayanya. Tetapi juga mengamalkan nilai-nilai yang terkandung di dalam budaya. Bisa dalam kehidupan sehari-hari atau juga dilingkungan yang baru dirasakan. Isi budayanya pun juga harus sesuai dengan tingkatan atau jenjangnya. Agar tidaklah tumpang tindih antara satu dengan yang lain.
Dewasa ini, kurikulum 2013 mewajibkan kegiatan ekstrakurikuler pramuka sebagai kegiatan utama. Dengan diwajibkannya kegiatan pramuka di setiap sekolah. Maka akan menumbuhkan aspek sosial serta budaya. Karena kegiatan seperti itu dapat lebih membuat siswa semakin termotivasi untuk mempelajari aspek-aspek sosial. Terlebih lagi aspek kebudayaan yang selama ini kurang siswa minati karena sering dianggap kuno dan tidak mengikuti perkembangan zaman.
Tidak kalah pentingnya, bahasa daerah pun harus selalu menjadi muatan lokal dalam setiap daerah. Entah harus digabungkan jam belajarnya ataupun dipisah. Karena mempelajari bahasa daerah akan menambah kecintaan terhadap budaya bangsanya sendiri. Terlebih lagi akan merasa bangga mempelajari bahasa tanah kelahirannya. Maka bahasa daerah haruslah ada dalam setiap muatan lokal.
Dewasa ini, banyak para remaja khususnya yang sering menggunakan bahasa alay dan gaul. Hal ini membuat bahasa Indonesia umumnya dan bahasa daerah khususnya menjadi semakin terpinggirkan. Karena keberadaan bahasa alay dan gaul itu akan menggeser bahasa yang sudah sejak lama digunakan yaitu bahasa Indonesia. Terlebih lagi peran bahasa Indonesia terhadap kurikulum.
Dalam bidang seni rupa pun banyak bermanfaat terhadap sikap peserta didik. Seperti contohnya rancangan mengenai gambar alam di sekitar yang menunjukan bahwa siswa harus menelaah mengenai gambar tersebut. Mengenai gambar yang bermakna terhadap kehidupan di sekeliling peserta didik. Seni rupa juga merupakan bagian dari budaya yang harus dilestarikan. Oleh karena itu, pendidik juga harus mampu berperan terhadap proses pembelajaran di dalam bidang seni rupa.
Pendidik juga harus mampu untuk menyontohkan seni rupa itu sendiri. Bukan hanya mengajarkan tentang seni rupa saja. Tetapi juga mempraktikan seni rupa sebagai contoh kepada peserta didik. Sehingga peserta didik lebih memahami mengenai seni rupa. Sehingga pada praktiknya siswa juga diajak lebih aktif. Seperti di dalam kurikulum 2013. Siswa sebagai pusat atau student center.
Dalam bidang seni musik juga berpengaruh terhadap sikap aktif peserta didik. Kebanyakan peserta didik juga sangat menyukai musik. Terlebih lagi di zaman yang serba globalisasi ini musik menjadi hal yang sangat dibutuhkan oleh peserta didik. Karena peserta didik ketika sedang tidak mood belajar terkadang ketika mendengarkan musik. Mereka bisa kembali mood dalam belajar. Pendidik juga harus bisa menguasai salah satu alat musik. Agar peserta didik lebih memaham tentang musik. Terlebih lagi tentang musik daerah. Musik daerah seharusnya juga menjadi muatan lokal di daerah sekolahnya.
Begitu juga dengan seni teater. Seni teater  di dalam kurikulum 2013 diajarkan. Karena pada hakikatnya kesenian budaya seperti teater ini haruslah selalu menjadi kegiatan yang mendukung budaya Indonesia. Terlebih lagi para pendidik yang seharusnya mampu untuk menyontohkan seni teater tersebut meskipun dalam lingkup yang sempit.
Kesimpulannya adalah bahwa kesenian Indonesia. Telebih lagi budaya bangsa Indonesia haruslah menjadi kompenen isi kurikulum. Karena dengan dimasukannya komponen budaya tersebut maka akan mengembangkan budaya bangsa Indonesia kepada generasi muda. Sehingga budaya Indonesia tidak mudah luntur atau tidak mudah menghilang.
Dengan perkembangannya di dalam kurikulum. Maka budaya Indonesia dari waktu ke waktu lebih berkembang lagi. Apalagi dalam kurikulum 2013 ini peserta didik diajak lebih aktif. Dalam hal ini bukanlah guru yang menjadi pusat pembelajaran. Tetapi, peserta didiklah yang menjadi pusat pembelajaran, sehingga peserta didik diajak lebih kreatif. Jika generasi muda kreatif maka bangsa ini dipegang oleh orang-orang yang kreatif. Jika orang-orang yang menjalankan pemerintahan ini. Maka pendidikan akan lebih maju lagi dan bisa bersaing dilingkup dunia.


Sumber bacaan :
I Wayan AS. S. Si. Perangkat Pembelajaran Seni Budaya. Jakarta: CV. Az-Zahra. 2013

Senin, 25 Mei 2015

Kreativitas



KREATIVITAS

Kreativitas merupakan kemampuan yang dimiliki seseorang untuk menemukan dan menciptakan suatu hal baru,cara baru,model baru,yang berguna bagi masyarakat.
Menurut para ahli :
1.      Barron
Kreativitas adalah kemampuan untuk menciptakan sesuatu yang baru. Sesuatu yangbaru disini bukan bearti harus sama sekali baru tetapi dapat juga sebagai kombinasi dari unsur-unsur yang telah ada sebelumnya.
2.      Utami munandar
Kreativitas adalah kemampuan yang mencerminkan kelancaran,keluwesan dan orisinalitas dalam berfikir serta kemampuan untuk mengelaborasi suatu gagasan.

Perkembangan kreatifitas
1.      Tahap sensor-motorik (0-2tahun)
Pada tahap ini belum memiliki kemampuan untuk mengembangkan kreativitasnya sebab pada tahap ini tindakan anak masih berupa tindakan fisik yang bersifat refleksif.
2.      Tahap praoperasional (2-7 tahun)
Pada tahap ini kemampuan kreativitas anak sudah mulai tumbuh karena anak sudah mulai mengembangkan memori dan telah memiliki kemampuan untuk memikirkan masa lalu dan masa yang akan datang meskipun dalam jangka waktu yang pendek.
3.      Tahap oprasional konkrit (7-11tahun)
Pada tahap ini, anak sudah mulai mampu untuk menampilkan operasi-operasi mental,mulai mampu berfikir logis dalam bentuk sederhana.
4.      Tahap operasional formal (11 tahun keatas)
Pada tahap ini seorang anak sudah disebut sebagai remaja. Seorang remaja sudah mampu melalukan kombinasi tindakan secara proposional berdasarkan pemikiran logis,remaja sudah menguasai bahasa abstrak.

Karakteristik kreativitas
1.      Diers
Mengemukakan bahwa karakteristik kreativitas :
·         Memiliki dorongan yang tinggi
·         Memiliki rasa ingin tahu yang besar
·         Penuh percaya diri
·         Toleran terhadap ambisius
2.      Utami munandar
Mengemukakan karakteristik kreativitas antara lain :
·         Senang mencari pengalaman baru
·         Memiliki inisiatif
·         Selalu ingin tahu
·         Mempunyai rasa humor
·         Berwawasan masa depan dan penuh imajinasi

3.      Clark
Mengemukakakn karakteristik kreativitas sebagai berikut:
·         Memiliki disiplin diri yang tinggi
·         Senang berpetualang
·         Memiliki wawasan yang luas
·         Sensitif terhadap lingkungan

Upaya membantu mengembangkan kreativitas dan implikasinya dalam pendidikan
1.      Torrance
Menanamkan relasi bantuan dengan istilah “creative relationship” yang memiliki karakteristik sebagai berikut:
·         Pembimbing berusaha memahami pikiran dan perasaan anak
·         Pebimbing mendorong anak untuk mengungkapkan gagasannya tanpa mengalami hambatan
·         Pebimbing lebih menekan pada proses daripada hasil hingga pebimbing dituntut untuk mampu memandang permasalahan anak
·         Pebimbing tidak memaksakan pendapat,pandangan atau nilai nilai tertentu pada anak.
2.      Dedi supriadi
Mengemukakan sejumlah bantuan yang dapat digunakan untuk membimbing perkembangan anak-anak kreatif,yaitu:
·         Menciptakan rasa amankepada anak untuk mengekpresikan kreativitasnya
·         Mengakui dan menghargai gagasan anak
·         Menjadi pendorong bagi anak untuk mengkombinasikan dan mewujudkan gagasan-gagasannya
·         Memberikan peluang  untuk mengkomunikasikan gagasan-gagasannya
·         Memberikan informasi mengenai peluang yang tersedia.

Sumber Foto : www.google.co.id

Senin, 18 Mei 2015

EMOSI

EMOSI

Emosi adalah sebuah istilah yang sudah sangat popular, namun maknanya secara tepat masih membingungkan, baik dikalangan ahli psikologi maupun ahli filsafat. Chaplin (2002) mengemukakan bahwa terdapat persesuaian umumbahwa keadaan emosional merupakan suatu reaksi kompleks yang mengait satu tingkat tinggi kegiatan dan perubahan secara mendalam serta dibarengi perasaan yang kuat, atau disertai keadaan afektif. Goleman (1984) menggunakan istilah emosi merujuk pada “a feeling and its distinctive thoughts psychological and biological states, and range of propensities to act. Sedangkan Morgan, King & Robison, (1984) mendefinisikan emosi sebagai: ”A subjective feeling state, often accompanied by facial and bodily expression, and having arousing, and motivating properties”. Jadi, emosi dapat diartika sebagai perasaan atau afeksi yang melibatkan kombinasi antara gejolak fisiologis (seperti denyut jantung yang cepat) dan perilaku yang tampak (seperti senyuman atau ringisan).
Faktor-faktor yang memengaruhi emosi
Perubahan fisiologis pada wajah, otak, dan tubuh.
Proses kognitif
Pengaruh Budaya

Perkembangan Moral
Perkembangan moral adalah pemahaman mengenai salah dan benar.
Teori perkembangan moral biasanya focus pada penalaran moral kitabagaimana kita melakukan penilaian tentang apakah suatu hal benar atau salah.
Teori Perkembangan Moral
Teori Wilayah
Penalaran Prososial
Teori Pikiran
Teori-teori perkembangan kognitif tentang penalaran moral
Faktor-faktor yang memengaruhi perkembangan moral
Lingkungan Keluarga
Keluarga sebagai lingkungan pertama yang memengaruhi perkembangan nilai, moral, dan sikap seseorang. Biasanya tingkah laku seseorang berasal dari bawaan ajaran orang tuanya. Orang-orang yang tidak memiliki hubungan erat yang ahrmonis dengan orang tuanya di masa kecil, kemungkinan besar mereka tidak mampu mengembangkan superegonya sehingga mereka bisa menjadi orang yang sering melakukan pelanggaran norma.
Lingkungan Sekolah
Di sekolah, anak-anak mempelajari nilai-nilai norma yang berlaku di masyarakat sehingga mereka juga menentukan mana tindakan yang baik dan boleh dilakukan. Tentunya dengan bimbingan guru. Anak-anak cenderung menjadikan guru sebagai model dalam bertingkah laku, oleh karena itu seorang guru harus memiliki moral yang baik.
Lingkungan Pergaulan
Dalam pengembangan kepribadian , factor lingkungan juga turut memengaruhi nilai, moral, dan sikap seseorang. Pada masa remaja biasanya seseorang selalu ingin mencoba sesuatu hal yang baru. Selalu ada rasa tidak enak apabila menolak ajaran teman. Bahkan terkadang seorang teman juga bisa dijadikan panutan baginya.
Lingkungan Masyarakat
Masyarakat sendiri juga memiliki pengaruh yang penting terhadap pembentukan moral. Tingkah laku yang terkendali disebabkan oleh adanya control dari masyarakat itu sendiri untuk pelanggar-pelanggarnya.
Teknologi
Pengaruh dari kecanggihan teknologi juga memiliki pengaruh kuat terhadap terwujudnya suatu nilai. Pada era saat ini remaja banyak menggunakan teknologi untuk belajar maupun hiburan.

Sumber Foto : www.google.co.id

KONSEP DIRI

KONSEP DIRI

Konsep Diri Menurut Para Ahli
Menurut Rogers, konsep diri adalah kesadaran batin yang tetap, mengenai pengalaman yang berhubungan dengan aku dan membedakan aku dari orang lain. Dari pendapat Rogers kita dapat mengidentifikasi bahwa pengalaman sangat berperan di dalam hal konsep diri. Sehingga pengalaman juga dapat membedakan antara diri seseorang dengan orang lain. Sedangkan menurut Burns, konsep diri adalah suatu gambaran campuran dari apa yang kita pikirkan, orang lain berpendapat mengenai diri kita, dan seperti apa diri yang kita inginkan. Menurut hemat saya, konsep diri menurut Burns ini juga mengemukakan mengenai pendapat orang lain di dalam diri seseorang. Kalau menurut saya, seseorang itu tidak bisa langsung berpendapat mengenai orang lain. Karena belum tentu konsep diri seseorang hanya bisa diliat dari luar saja. Tetapi, butuh proses untuk mengetahui diri seseorang. Sekalipun itu orang tua dari orang tersebut. Belum tentu dia bisa mengemukakan konsep diri anaknya. Dia hanya bisa melihat gejala-gejala yang nampak dari luar saja.
Menurut Brooks konsep diri di sini dimengerti sebagai pandangan atau persepsi individu terhadap dirinya, baik bersifat fisik, sosial, maupun psikologis, di mana pandangan ini diperolehnya dari pengalamannya berinteraksi dengan orang lain yang mempunyai arti penting dalam hidupnya. Sama halnya dengan Rogers, Brooks juga berpendapat pengalaman berperan sebagai pembeda antara diri seseorang dengan orang lain. Sehingga ditemukan di dalam diri orang tersebut yang berbeda dengan diri orang lain. Setelah saya membaca dan memahami pengertian konsep diri menurut para ahli. Saya berpendapat bahwa konsep diri adalah gambaran seseorang tentang dirinya sendiri dari hal-hal yang ia rasakan dan alami.
Konsep diri seseorang mula-mula terbentuk dari perasaan apakah ia diterima dan diingikan kehadirannya oleh keluarganya. Melalui perlakuan yang berulang-ulang dan setelah menghadapi sikap-sikap tertentu dari ayah, ibu, kakak, dan adik ataupun orang lain dilingkup kehidupannya akan berkembanglah konsep diri seseorang. Konsep diri ini yang pada mulanya berasal dari perasaan dihargai atau tidak dihargai. Perasaan inilah yang menjadi landasan dari pandangan, penilaian, atau bayangan seseorang mengenai dirinya sendiri yang keseluruhannya disebut konsep diri.


Komponen-komponen Konsep Diri
Gambaran diri adalah  sikap individu terhadap tubuhnya, baik sadar maupun tidak sadar. Meliputi performance, potensi tubuh, persepsi dan perasaan tentang ukuran dan bentuk tubuh. Performance di sini diartikan bahwa penampilan merupakan gambaran diri seseorang. Seseorang jauh lebih tahu penampilan dirinya sendiri daripada orang lain. Walaupun sering kali orang lain mengemukakan pendapat mengenai penampilan kita. Namun, anggaplah itu sebagai saran terhadap penampilan kita. Kalau yang baik kita ambil, yang buruk kita sisihkan. Potensi tubuh di sini dapat kita artikan bahwa tubuh kita juga punya potensi untuk dikembangkan. Dalam artian kita tahu bahwa tubuh kita mampu di dalam mengembangkan potensi yang kita punya. Persepsi dan perasaan tentang ukuran dan bentuk tubuh juga saya rasa berpengaruh. Karena jika kita menganggap dengan badan yang pendek dan gemuk kita tidak mampu melakukan sesuatu. Maka persepsi kita akan terus berkata seperti itu. Kita akan terus menerus berkata tidak mampu. Padahal kita mampu untuk melakukan sesuatu walaupun sulit.
Harga diri adalah penilaian individu terhadap hasil yang dicapai dengan cara menganalisis seberapa jauh perilaku individu tersebut. Harga diri sangat berguna dalam diri seseorang. Setelah kita melakukan sesuatu, seharusnya kita menilai apa yang telah kita lakukan itu apakah sudah tercapai hasil yang maksimal atau belum. Jikalau belum kita tingkatkan lagi perilaku baik kita untuk mencapai sesuatu itu. Jika sudah, kita dapat analisis apakah perilaku itu bernilai baik atau tidak.
Ideal diri adalah persepsi individu tentang perilakunya yang disesuaikan dengan standar pribadi yang terkait dengan cita-cita. Jika perilaku kita baik dan sesuai dengan apa yang kita inginkan dengan niatan yang baik. Maka kita sudah menjadi pribadi yang ideal.
Peran diri adalah pola perilaku sikap nilai dan aspirasi yang diharapkan individu berdasarkan posisinya di masyarakat. Perilaku sikap seseorang juga berpengaruh di dalam masyarakat sekitarnya. JIka sikap dan tujuan kita baik, maka orang akan memandang kita baik.
Identitas diri adalah kesadaran akan diri pribadi yang bersumber dari pengamatan dan penilaian sebagai sintesis semua aspek konsep diri sebagai sesuatu yang utuh.

Konsep diri positif  terdiri dari beberapa aspek :
Merasa mampu mengatasi masalah.
Merasa setara dengan orang lain.
Menerima pujian tanpa rasa malu.
Merasa mampu memperbaiki diri.

Konsep diri negatif terdiri dari beberapa aspek :
Peka terhadap kritik.
bersikap Responsif terhadap pujian
Cenderung merasa tidak disukai orang lain.
mempunyai sikap hiperkritik.
Mengalami hambatan dalam interaksi dalam lingkungan sosialnya.



Faktor-faktor yang memengaruhi perkembangan konsep diri ada beberapa, yaitu:
Usia: konsep diri terbentuk seiring dengan bertambahnya usia, di mana perbedaan ini lebih banyak berhubungan tugas-tugas perkembangan.
Intelegensi: mempengaruhi penyesuaian diri seseorang terhadap lingkungannya, orang lain, dan dirinya sendiri.
Intelegensi: mempengaruhi penyesuaian diri seseorang terhadap lingkungannya, orang lain, dan dirinya sendiri.
Status sosial ekonomi: status sosial seseorang memengaruhi bagaimana penerimaan orang lain terhadap dirinya.
Hubungan keluarga: seseorang yang mempunyai hubungan yang erat dengan anggota keluarganya akan mengidentifikasikan diri dengan orang lain dan ingin mengembangkan pola kepribadian yang sama.
Orang lain: kita mengenal diri kita dengan mengenal orang lain terlebih dahulu.

Sumber Foto : www.google.co.id

Sabtu, 25 April 2015

Psikologi Pendidikan: Untukku, Untukmu, dan Untuknya.

Psikologi Pendidikan


Definisi Psikologi Pendidikan
Barlow mendefinisikan psikologi pendidikan sebagai: ….  a body of knowledge grounded in psychological research which provides a repertoire of resources to aid you in functioning more effectively in teaching learning process. Artinya psikologi pendidikan adalah sebuah pengetahuan berdasarkan riset psikologis yang menyediakan serangkaian sumber-sumber untuk membantu Anda melaksanakan tugas sebagai seorang guru dalam proses mengajar-belajar secara lebih efektif.
Menurut hemat saya, pendapat Barlow sudah sangat bagus. Tetapi Barlow mendefinisikan pengertian tersebut hanya untuk kegiatan mengajar-belajar. Tidak secara umum atau bukan pengertian yang lebih luas, melainkan pengertian yang terbatas pada suatu aspek.
Setelah saya membaca dan memahami pengertian psikologi pendidikan menurut para ahli, saya mencoba mendefinisikan psikologi pendidikan sesuai dengan kemampuan pikiran dan hati saya. Menurut saya psikologi pendidikan adalah ilmu yang mempelajari tentang ilmu jiwa dengan cara sistematis, yang di dalamnya terdapat pembelajaran, pengembangan motivasi, dan mengembangkan instruksional yang efektif. Jadi bukan hanya kepada aspek mengajar-belajar tetapi juga ke dalam ranah yang lebih luas.
Manfaat Belajar Psikologi Pendidikan
Manfaat belajar psikologi pendidikan bukan hanya untuk mengajar atau untuk bahan ajaran saja. Melainkan masih banyak manfaat yang bisa kita dapatkan dari belajar psikologi pendidikan. Menjadi motivator adalah salah satu manfaat mempelajari psikologi pendidikan. Karena di dalam psikologi pendidikan terdapat materi motivasi. Kita bisa memotivasi diri kita sendiri, bahkan kita juga bisa memotivasi orang lain. Maka dari itu belajar psikologi pendidikan secara tak langsung membuat kita bisa menjadi motivator. Selain menjadi motivator, manfaatnya juga bisa membuat kita lebih memahami diri sendiri, bahkan memahami orang lain. Dengan kata lain, kita belajar psikologi pendidikan mengenal lebih dalam diri sendiri, dan mengenal lebih dalam watak orang terdekat kita. Bahkan kita juga bisa menjadi psikolog (ahli jiwa). Bukan hanya memahami watak atau kepribadian orang terdekat, bahkan bisa mengetahui kepribadian orang yang jauh, bahkan orang yang baru kenal sekalipun.
Mengatasi masalah sosial juga merupakan manfaat belajar psikologi pendidikan. Psikologi dapat mengurai pangkal masalah, setidaknya mengurangi problem sosial. Kita dapat mengetahui karakteristik masalah-masalah sosial melalui sifat masyarakat sekitar. Sehingga ketika terjadi masalah sosial, akan diangkat hal yang melandasi kejadian tersebut. Sehingga akan terbuka masalah tersebut munculnya dari mana, perkembangannya, dan solusi agar bisa terpecahkan masalah tersebut.
Metode Psikologi Pendidikan
Seiring bergulirnya waktu, saya banyak mencoba berbagai metode di dalam psikologi pendidikan. Namun, metode eksperimen adalah metode yang paling saya sukai. Metode eksperimen adalah serangkaian percobaan yang dilakukan eksperimenter (peneliti yang bereksperimen) di dalam sebuah laboratorium atau ruangan tertentu lainnya. Metode tersebut memudahkan saya di dalam mempelajari psikologi pendidikan. Metode tersebut menuntut untuk melakukan percobaan-percobaan. Metode ini lebih bersifat definitif (pasti) dan lebih sainstifik (ilmiah) jika dibandingkan dengan data dan informasi yang dihimpun melalui  penggunaan-penggunaan metode lainnya. Saya pernah mencoba metode eksperimen ini di dalam kelas, misalnya dengan mengukur tinggi badan, menimbang massa badan, dan berbagai hal lainnya. Metode ini membuat saya dan kawan-kawan saya menjadi gembira. Dahulunya saya tidak tahu kini saya menjadi tahu dengan metode ini. Sebagaimana di dalam surat Al-Baqarah ayat 151, Allah SWT berfirman;
... وَيُعَلِّمُكُمْ مَّالَمْ تَكُوْنُوْا تَعْلَمُوْنَ...
Allah telah’mengajarkan’  kepada kamu apa yang belum kamu ketahui.
Metode inilah yang membuat saya percaya bahwa keilmiahan harus dibuktikan dengan percobaan-percobaan sehingga tercapai pemikiran atau hasil yang pasti dan sesuai.
Pertumbuhan dan Perkembangan
Pertumbuhan dan perkembangan merupakan hal yang mengubah jasmani dan rohani. Dalam mempelajari pertumbuhan dan perkembangan, banyak sekali hal yang membuat hati menjadi bergelora. Membuat fikiran yang galau menjadi senang tak karuan. Menghilangkan kemalasan dengan keharusan. Itulah yang membuat saya senang mempelajari pertumbuhan dan perkembangan. Tepatnya pada waktu itu dihadapkan pada pengelompokan kecil, disitu dibagi beberapa kelompok, dan ditugaskan untuk membuat sebuah kesimpulan mengenai “pertumbuhan dan perkembangan”. Pada saat itu otak, pikiran dan tenaga diasah agar lebih kreatif dalam membuat kesimpulan itu. Kreatif dalam membuat hiasan di dalam paper. Itulah salah satu proses perkembangan yang membuat saya senang dalam menjalani hal tersebut.
Teori Belajar
Watson adalah seorang tokoh aliran behavioristik yang datang sesudah Thorndike. Menurutnya belajar adalah proses interaksi antara stimulus dan respon yang dimaksud harus berbentuk tingkah laku yang dapat diamati (observabel) dan dapat diukur. Dengan kata lain, walaupun ia mengakui adanya perubahan-perubahan mental dalam diri seseorang selama proses belajar, namun ia menganggap hal-hal tersebut sebagai faktor yang tak perlu diperhitungkan. Teori tersebut menjelaskan bahwa stimulus di sini adalah apa saja yang diberikan guru, baik berupa pertanyaan, pedoman, dan sebagainya. Sedangkan respon di sini adalah tanggapan siswa terhadap pertanyaan guru. Teori ini sangat cocok untuk melatih keaktifan siswa di dalam kelas. Teori ini juga berguna bagi guru karena guru akan lebih banyak tahu siswa berpotensi.
Multiple Intelegences
Intelegensi merupakan salah satu dari beberapa gejala kejiwaan yang sulit dipahami. Dalam KBBI, intelegensi adalah pengujian tingkat kecerdasan seseorang, terlepas dari pendidikannya. Sedangkan Multiple Intelegences adalah kecerdasan majemuk yang dimiliki oleh setiap orang. Multiple intelegensi terbagi menjadi 8:
 




















1.      Kecerdasan Verbal – Linguistik (Verbal – Linguistik)
Bentuk kecerdasan ini menampakan pada kepekaan akan maknadan urutan kata serta kemampuan beragam penggunaan bahasa. Contohnya; ahli bahasa, sastrawan, orator, jurnalis dan lain-lain.
2.      Kecerdasan Logika – Matematika (Logical – Mathematical)
Kecerdasan ini sebagai pikiran analitik dan sainsitifik, dan dapat melihatnya dalam ahli sains, programmer, komputer, akuntan, ahli matematika.
3.      Kecerdasan Naturalis (Naturalistic)
Kecerdasan naturalis adalah kemampuan untuk mengenali, membedakan, mengungkapkan, dan membuat kategori terhadap apa yang dijumpai di alam maupun lingkungan. Intinya adalah kemampuan manusia untuk mengenali tanaman, hewan dan bagian lain dari alam semesta.
4.      Kecerdasan Intrapersonal
Kecerdasan ini berhubungan dengan penilaian diri yang akurat, penentuan tujuan, memahami diri/instropeksi diri, dan mengatur emosi diri.
5.      Kecerdasan Visual – Spatial
Kecerdasan ini hasil dari imaji dan menciptakan representasi grafis serta mampu mencipta ulang dunia visual.
6.      Kecerdasan Musik
Kecerdasan iniberhubungan dengan pola ritmik dan musik secara natural. Contohnya; penyanyi, musisi.
7.      Kecerdasan Kinestetik
Bentuk kecerdasan ini adalah berhubungan dengan pikiran dan tubuh. Kecerdasan ini menghasilkan aktivitas/gerak tubuh. Contohnya; pantonim, atlet, penari, aktor dan lain-lain.
8.      Kecerdasan Interpersonal
Kecerdasan ini berhubungan dengan membagi-bagi tugas seperti negosiasi dan organisasi berkaitan dengan PKn dan sosiologi. Contohnya; manajer, konselor, politikus, dan  lain-lain.
Setiap manusia bisa memiliki lebih dari satu intelegensi. Seperti saya ini, intelegensi saya bukan hanya kemampuan berbahasa, tetapi juga bermusik, dan juga spatial. Bahkan mungkin masih ada lagi. Namun, intelegensi yang paling besar pada diri saya adalah kemampuan berbahasa. Kemampuan berbahasa adalah kemampuan bagaimana seseorang bisa berbicara dengan baik, dan lancar. Bagaimana seseorang bisa memahami bahasa dari berbagai sudut. Seseorang yang berbahasa juga bisa bersastra dengan baik. Seperti saya yang menuangkan kemampuan saya dengan hal yang positif. Mulai dari berbahasa yang baik dan benar. Menulis puisi, cerpen, esai, artikel, dan karangan-karangan lainnya. Dengan membacakan puisi pada acara-acara tertentu, menjadi pemakalah. Walaupun itu pada dasarnya hal yang kecil. Namun jika terus dikembangkan maka itu akan menjadi besar. Saya kembangkan kemampuan yang saya punya agar tidak sirna perlahan-lahan.
Motivasi
Motif (motive) berakar dari akar kata bahasa latin “movere” yang kemudian menjadi ”motion” yang artinya gerak atau dorongan untuk bergerak. Jadi motif merupakan daya dorong, daya gerak atau penyebab seseorang untuk melakukan berbagai kegiatan dan dengan tujuan tertentu. Hal ini sejalan dengan pengertian yang dikemukakan oleh Woodworth & Marquis, dalam bukunya Psychology , hlm.337, yaitu: a motive is a set predisposes the individual of certain activities and for seeking certain goals (Motif adalah suatu set (kesiapan) yang menjadikan individucenderung untuk melakukan kegiatan-kegiatan tertentu dan untuk mencapai tujuan-tujuan tertentu). Sedangkan motivasi (motivation) berarti pemberian atau penimbulan motif atau hal yang menjadi motif.
Dalam keseharian, pasti akan ada hal yang membuat kita ingin mencapai tujuan yang kita inginkan. Dari situ muncul motivasi jika kita ingin sesuatu maka kita harus bersungguh-sungguh untuk mendapatkan sesuatu. Maka dalam syair arab yang dikatakan ulama-ulama salaf :
مَنْ جَدَّ وَ جَدَ
“Barangsiapa yang bersungguh-sungguh, maka ia akan mendapatkan”
Dari situlah kita harus bersungguh-sungguh untuk mendapatkan sesuatu. Sama halnya dengan motivasi (dorongan) jika kita mendapatkan motivasi maka kita akan selalu bersemangat dan bersungguh-sungguh. Ada dua motivasi secara umum, yaitu; motivasi internal dan motivasi eksternal. Motivasi internal yang memengaruhi saya untuk menuntut ilmu  itu banyak sekali. Karena kemauan saya yang kuat untuk menuntut ilmu, lebih-lebih di jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (PBSI). Saya memotivasi diri saya agar mampu terus belajar dengan baik tanpa malas. Meskipun pada kenyataannya malas itu sering datang dari berbagai sisi. Ketika teman yang menghasut dan mengajak bermain. Padahal situasinya besok akan ada ujian. Hati kecil saya pun berkata ‘untuk apa kita bermain kalau ada hari esok, besok ada ujian dahulukanlah ujian, main nanti bisa kapan saja’. Terkadang juga situasi tidak mendukung kita, ketika kita sedang belajar, orang-orang rumah dengan suara yang berkoar-koar membuat telinga saya sedikit tersakiti. Pada saat itu kita dituntut agar bisa terus melanjutkan belajar meski pada kondisi yang tidak baik. Banyak juga orang yang lebih banyak pengetahuannya dibandingkan saya pribadi, sehingga saya merasa gencar dan ingin terus belajar agar bisa setara dengan orang tersebut bahkan melebihhinya.
Ada juga motivasi eksternal yang memengaruhi minat dan niat saya masuk PBSI. Salah satunya guru saya, ketika masih duduk di aliyah. Guru saya yang meyakini dengan sepenuh hati bahwa saya harus melanjutkan ke jenjang perguruan tinggi. Sehingga apa boleh dikata, doa guru ibarat doa orang tua, yang terus mengalir demi kesuksesan anak didiknya. Begitu pula orang tua saya yang selalu mendukung keberhasilan saya di mana dan kapan pun saya berada. Kekasih hati saya juga termasuk faktor eksternal yang membuat saya masuk PBSI. Karena dialah saya bisa semangat melawan keganasan malas yang selalu merasuk ke dalam alam pikiran dan hati saya. Kendaraan pun menjadi faktor penting untuk memulai segala aktivitas. Jika saya tidak punya motor, saya tidak bisa membayangkan jika saya harus naik angkutan kota dan menunggu sejak pagi. Alhamdulillah, dengan adanya motor transportasi lebih mudah, lebih hemat waktu, hemat bioaya, bahkan hemat tenaga.
Teori Belajar pada Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia
Teori belajar kognitif adalah salah satu teori yang saya sukai. Teori ini lebih mementingkan proses belajar dari pada hasil belajarnya. Pada teori ini dijelaskan bahwa belajar tidak sekadar melibatkan hubungan stimulus dan respon. Model belajar ini mengatakan bahwa tingkah laku seseorang ditentukan oleh persepsi serta pemahaman tentang situasi yang berhubungan dengan tujuan belajarnya. Menurut model belajar ini belajar adalah perubahan persepsi dan pemahaman yang tidak selalu dapat terlihat sebagai tingkah laku yang nampak. Jadi teori ini membuat saya merasa bahwa proses belajar itu adalah bagian terpenting di dalam proses pembelajaran, jika proses belajar dilakukan dengan maksimal dan baik maka hasilnya pun tidak akan jauh berbeda dengan prosesnya. Namun , kembali lagi kepada diri sendiri. Jika prosesnya baik tetapi si penerima tidak menangkap dengan maksimal dan baik maka proses tersebut tidak dapat dikatakan berhasil.
Guru yang Beraliran Behaviorisme
Kita ketahui aliran behaviorisme menjelaskan bahwa belajar adalah perubahan tingkah laku sebagai akibat dari adanya interaksi antara stimulus dan respon. Stimulus di sini berarti apa saja yang dapat merangsang terjadinya kegiatan belajar seperti pikiran, perasaan atau hal-hal lain yang dapat ditangkap melalui alat indera. Sedangkan respon yaitu reaksi yang dimunculkan peserta didik ketika belajar, yang juga dapat berupa pikiran, perasaan atau gerakan/tindakan.
Setelah kita mengetahui pengertian stimulus dan respon. Maka guru beraliran behaviorisme memiliki ciri-ciri: (1) memberikan pertanyaan kepada siswa, (2) memberikan tugas kepada siswa, (3) memberikan materi yang sama namun baru, (4) mengajar dengan metode ceramah, (5) memberikan tes/kuis, (6) memecah materi pelajaran menjadi bagian kecil-kecil, dan (7) memberikan hukuman ringan ketika siswa tidak mengerjakan tugas.
Guru yang Beraliran Humanisme
Sebelum kita membahas mengenai ciri-ciri guru yang beraliran humanisme, maka kita harus tahu dahulu tentang pengertian dan aspek-aspek teori humanisme. Menurut teori humanistik, proses belajar harus dimulai dan ditujukan untuk kepentingan memanusiakan manusia itu sendiri. Teori humanistik sangat mementingkan isi yang dipelajari dari pada proses balajar itu sendiri. Teori belajar ini lebih banyak berbicara tentang konsep-konsep pendidikan untuk membentuk manusia yang dicita-citakan serta tentang proses belajar dalam bentuknya yang paling ideal.
Dari paparan di atas kita dapat mengetahui ciri-ciri guru yang beraliran humanisme yaitu; (1) menentukan mateti pelajaran yang tepat dengan silabus dan kemampuan siswa, (2) mengidentifikasi topik-topik pelajaran yang memungkinkan siswa secara aktif melibatkan diri atau mengalami dalam belajar, (3) merancang fasilitan belajar seperti lingkungan dan media pembelajaran, (4) membimbing siswa untuk memahami hakikat makna dari pengalaman belajarnya, (5) membimbing siswa membuat konseptualisasi pengalaman belajarnya, dan (6) membimbing siswa dalam mengaplikasikan konsep-konsep baru ke situasi nyata.




Daftar Pustaka
Budianingsih, Asri. Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: Rineka Cipta. 2012
Muhibbin, Syah, M.Ed. Dr. Psikologi Pendidikan. Bandung: Remaja Rosdakarya. 2011
Rachman, Abror Abd. Psikologi Pendidikan. Yogyakarta: Tiara Wacana. 1993